Bicara Sufi Di Cape Town, 7 Februari 2001- Shaykh Abdal qadir as-sufi
Sebelum mulai saya hendak mengucapkan syukur kepada Imam dan Shaykh kita. Saya sangat senang berada di sini karena saya merasa tempat saya di sini. Saya merasa berada di antara saudara-saudara saya, dan saya merasakan kedekatan di antara kita. Insya Allah kita semua mendapatkan manfaat darinya, kekuatan akan mengalir dari seluruh komunitas dan Allah menaikkan komunitas ini serta menjadikannya pemimpin di segala sendi di persada ini.
Saya hendak bicara perihal Tasawwuf. Saya hendak bicara perihal Sufisme dan saya tahu ini adalah jantung Tasawwuf. Saya tahu di atas pegunungan yang diberkahi itu bersemayam para wali besar yang kendati datang kemari sebagai tawanan namun hati mereka terbebas. Berkat gerakan hati mereka, berkat doa dan perilaku mereka, yang menakjubkan karena mereka datang kemari dengan dirantai dan dikirim ke penjara maupun pulau, dari situlah seluruh Islam di Afrika Selatan lahir. Itulah keserasian yang terbaik karena secara politis bila anda berpikir tentangnya, Dien Islam diawali dengan dua pelarian di gua. Dari keduanya dan seorang lagi yang berbaring di kota mempertaruhkan hidupnya dengan menyamar menjadi salah satu dari kedua pelarian itu, lahirlah Dien Islam yang agung yang kini menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menjadi satu-satunya agama yang terus tumbuh.
Camkanlah dalam benak kita, berkat berkah para wali itu yang masih hidup hingga hari ini, dan khususnya berkat semangat dan kekuatan Muslim Cape Town yang telah bertahan dari penderitaan panjang selama berabad-abad, yang bukannya terkikis namun tetap tumbuh hingga kini, anda dan anak cucu anda tak pelak lagi akan hidup untuk menyaksikan kegemilangan Islam. Negeri ini akan menjadi mayoritas Muslim dan penduduk minoritasnya yang berada di bawah kita akan aman terlindung yang takkan mereka alami bila berada di tangan para bankir dan ahli keuangan yang kini menguasai dunia. Itulah warisan yang anda terima dari para wali agung itu. Untuk alasan itulah penting untuk memahami mengapa Tasawwuf dari para shuyukh agung dan wali besar itu harus tetap hidup. Dalam Diwannya, shaykh saya yang pertama, Shaykh as-Suluk saya, Shaykh Sidi Muhammad ibn al-Habib rahimahullah dari Meknes, berujar dalam salah satu qasidanya, “Mu’taqidan shaykhan hayyan, yakun ‘arifan billah.” Anda harus mengambil Shaykh yang hidup karena perkara ini takkan mungkin tanpa Shaykh yang hidup, karena sesuatu yang akan saya jelaskan kemudian yang berkaitan dengan bagaImana nafsu itu, dan bagaImana nafsu berubah di jalan ilmunya lewat berbagai tahap. Diperlukan pembimbing. Jalaludin Rumi berkata, “Dengan pembimbing, perjalanan selama 200 tahun dapat tercapai dalam seumur hidup.” Mengambil pembimbing ini, mengambil Shaykh yang hidup ini, karena anda ingin maju dengan cepat di jalan pengetahuan ini. Ada tariqa di Afrika Barat yang disebut Tijaniya. Di antara mereka terdapat orang-orang yang sangat luar biasa. Namun bagi kami mereka bukanlah Sufi yang tepat karena mereka membangun segalanya di sekeliling makam Shaykh yang telah wafat yang merupakan seorang wali agung, yakni Shaykh Ahmad at-Tijani yang disemayamkan di Fes. Suatu hari, seseorang bertanya kepada Shaykh kami, Shaykh Muhammad ibn al-Habib rahimahullah, “Mengapa anda tidak memberikan persetujuan kepada Tariqa Tijaniya?” Dan beliau menjawab, “Seorang bidan yang telah wafat takkan dapat membesarkan seorang anak yang hidup.” Dengan kata lain, dalam bahasa para Sufi, peristiwa ruhaniah yang menyadarkan, membangkitkan dan menyinari itu adalah seperti kelahiran bayi. Agar seorang anak/bayi yang hidup dapat dibesarkan, yakni agar pengetahuan itu dapat meresap ke dalam kalbu Mu’min, yang dapat melakukannya, si bidan, haruslah hidup karena Tasawwuf adalah proses penghidupan rohani yang halus dan semakin halus hingga akhirnya sebuah kata/isyarat marifa harus diucapkan demi membawa si pencari terus berjalan (salik). Kini begitu banyak Tasawwuf palsu, seperti halnya syariat yang telah terpengaruh dan terkorupsi hingga anda dapat memiliki bank Islam, asuransi Islam dan seterusnya dan seterusnya, dan tentu saja itu semua mustahil. Kita mulai dengan asumsi bahwa Tasawwuf yang tepat adalah yang berpijak dengan kokoh pada Syariat. Shaykh Muhammad ibn al-Habib rahimahullah berkata, “Syariat adalah yang memisahkan dan hakekat adalah yang mengumpulkan.” Apa maknanya? Syariat adalah di dunia ini dan syariat adalah pembeda antara yang halal dengan yang haram. Faraid dan nawafil. Mana yang mustahab, disetujui dengan yang makruh, tidak disetujui. Syariat adalah pemisah, pembeda, furqan. Salah satu nama Qur’an adalah Al-Furqan karena membedakan hukum-hukum dasar bagi Muslim, dan Rasul sallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Saya telah menjadikan beberapa hal lebih terlarang bagimu daripada yang tercantum dalam Kitab Allah subhana wa ta’ala.” Sehingga furqan syariat berasal dari Kitab Allah dan Wahyu Allah juga ke Sunnah Rasul sallallahu ‘alayhi wa sallam. Dengan cara yang sama Hakikat, kebenaran, kebenaran ruhani, adalah kebalikannya, yakni yang dikumpulkan. Kelihatannya ini lebih sulit, namun akan saya jelaskan apa Hakikat itu tepatnya. Saya ingat, di Casablanca, Morocco, Sidi ‘Arafa (murid Sh.Muhammad ibn alHabib) memiliki sebuah lapak di pasar yang karena kecilnya hanya menyisakan tempat yang betul-betul hanya cukup untuk sholat, selain tempat untuk menjual barang-barangnya. Ia menjual pita untuk tepi jalaba wanita. Ia seorang pedagang sederhana. Para wanita datang dan berkata, “Saya ingin yang biru,” dan akan ia tawarkan seluruh pilihan kepada mereka, mengukurnya setengah meter, memotongnya dan berkata, “Satu dirham.” Itulah pekerjaannya, biasa, sederhana. Lalu saya pergi dengannya ke Fes ke makam Maulana Idris dan di sana begitu banyak Sufi besar. Saya masuk dengan Sidi ‘Arafa yang setahu saya, dia hanyalah seorang pria yang mengukur benda kecil itu dengan begitu akurat karena ia juga adalah murid Shaykh saya. Saat kami memasuki masjid, orang-orang menghampiri dan ia harus menghentikan mereka menciumi kakinya! Ia harus menghentikan mereka karena mereka begitu menghargainya. Mereka gemetar karena mereka berada di dekatnya. Di antara insan Allah dialah sang raja, dan di antara orang-orang di pasar ia hanyalah seorang pedagang miskin. Itulah Tasawwuf.
Fuqara Shaykh kami biasanya cemburu kepadanya karena saat ia datang Shaykh akan memisahkannya dari yang lain, terus bersamanya dan meninggalkan yang lain. Akhirnya mereka menghampirinya dan bertanya, “Mengapa anda senantiasa duduk bersama Sidi ‘Arafa dan tidak bersama kami?” Beliau menjawab, “Karena ia memiliki saku yang tidak bolong.” Dalam bahasa para Sufi, segala sesuatu adalah kiasan dan yang dimaksudkannya adalah segala kebijaksanaan yang diperoleh akan dimasukkannya ke dalam saku ilmunya dan takkan jatuh dari lubang manapun. Yang lain memperoleh sesuatu tapi lalu melupakannya, namun ia tak pernah melupakan segalanya. Jadi anda mulai menghargai jenis manusia yang lain dan mulai melihat bahwa anda sendiri memiliki suatu kualitas dan kapasitas, dan anda dapat ditingkatkan dengan ilmu tersebut. Namun itu adalah ilmu yang di jantungnya terdapat sepotong berita yang sangat menghancurkan yang berasal dari Qur’an dan dengan jelas dinyatakan dalam hadits, yakni penyingkapan kebenaran, hakikat mutlak pernyataan berikut, La hawla wa la quwatta illa billah . Anda mulai menyadari Ialah satu-satunya yang menjadikan segalanya terjadi. Ialah Sang Pelaku. Ialah Sang Aktor dalam segala situasi. Begitu anda mendapatkan ilmu itu, yakni bahwa Allah adalah Pelaku dan Allah adalah Pemberi dan bahwa hidup dan gizi dan atap di atas kepala kita seluruhnya berada di bawah kekuasaan dan perintah Allah, maka hidup anda berubah seutuhnya Salah seorang wali mengeluh kepada Allah dan bertanya, “Ya Allah, saya telah berdoa, mengapa Engkau tidak menjawab doaku?” Dan ia mendengar suara yang berkata, “Ya Yahya! Tak tahukah kamu bahwa saya senang mendengar suaramu?!” Itulah cinta Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-hambaNya. Sehingga para insan ini jadi terpisah dari bencana. Yang jamal adalah yang jalal . Keindahan berasal dari Allah dan kemuliaan berasal dari Allah. Mereka berasal dari sumber yang sama. Seorang wali besar dari Andalusia ditanya, “BagaImana anda mencapai Allah?” Beliau menjawab, “Saya mencapai Allah dengan nama-namaNya yang bertolak belakang.” Dengan menempatkannya bersama dan menyadari bahwa mereka adalah Tuhan Semesta Alam yang Satu. Adh-Dhahiru wal-Batin. Al-Awwalu wal-Akhiru. Al-Jamal wal-Jalal . Itulah perubahan yang terjadi untuk mengawali penciptaan satu insan Allah.
Itulah Tasawwuf itu, itulah urusannya, itulah yang menjadikan toko dibuka, tidak untuk membebankan biaya apapun. Satu-satunya biaya hanyalah nafsu yang diambil dan dipecah, tidak disusun kembali namun nafsu tersebut harus dipahami kembali pertama-tama sebagai inteligensi, akal, lalu dipahami kembali dengan melampaui akal menuju ke hati, dan hati lalu dipecah, patah dan lenyap hingga datang rahasia dari diri kepada diri. Itulah Tasawwuf. Itulah harta milik Muslim. Saya datang ke Cape Town untuk menyatakan bahwa toko telah dibuka. Jika khalayak ingin datang dan mengikuti dan mengambil jalan ini, saya siap melayani anda. Insya Allah dengan berdzikir dan berfikir, bertafakur, akan anda lihat perubahan di seluruh Cape Town, akan anda lihat dakwah yang akan masuk ke setiap satu kelompok manusia dalam masyarakat ini dan akan anda lihat kejayaan Islam.
Kami memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala, untuk memberkahi Imam masjid ini, untuk memberkahi keluarga ulamanya yang luar biasa dan untuk menjadikan mereka kuat dan kami juga memohon cahaya Allah dilimpahkan ke atas kubur Shaykh an-Najar rahimahullah. Kami memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala, untuk melimpahkan berkah dan nur dan ilhamNya kepada jemaah masjid ini dan agar para wanita terlindungi dari bahaya di masa yang sulit ini. Kami memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala, agar anak-anak mewarisi melalui kerja kami, Islam yang lebih kuat, Islam yang lebih luas dan komunitas yang lebih aman di mana mereka hidup. Disusun semulaabu zuhri shin11.9.2006